Selasa, 15 Juli 2014

Kehidupan Yang Sebenarnya

Kadang senyuman dalam menghadapi masalah adalah cara untuk menanganinya dengan baik.
kadang seyuman dalam menanggapi cemooh musuh adalah cara untuk membuat musuh putus asa.
kekuatan dari senyuman tak sekecill yang kita kira, dengan senyuman yang ikhlas hidup akan indah karena senyum adalah simbol orang yang menikmati dan mensyukuri hidupnya..



Manfaat dari rasa syukur adalah melepaskan diri dari tekanan stress dan mengerti bahwa manusia itu lemah dalam hidup serta terbatas kemampuannya.
"kenapa tak berserah pada Tuhan dan lakukan bagianmu?"

Hidup adalah sebuah cerita panjang yang tak semuanya bisa kita jalani dengan mudah tanpa ada "PENUNTUN" yang menunjukan kita jalan saat tersesat dan bingung.
jalani hidup bersama Tuhan maka hidup akan terasa lepas dan indah.

Mungkin ada 100 alasan karena sedih, namun ada 10000000 alasan untuk bersuka cita, hidup adalah proses tiap insan yang berbeda pula ceritanya, banyak cara untuk gembira salah satunya adalah bersyukur dalam segala hal, karena Tuhan itu baik.

Siapapun yang membaca ini ketahuilah :
TUHAN YESUS MENGASIHIMU DAN MENYERTAIMU DALAM HIDUPMU :)


Catatan

Aku bersyukur pada Tuhan karena sejauh ini banyak hal yang udah terjadi dalam hidupku
Tuhan senantiasa menyertaiku dan tak pernah meninggalkanku.

hari ini, hari ke 3 aku menunggu waktu untuk pulang dan kembali ke kampung halamanku
yahh, penantian yg cukup lama bagiku, tapi saat ini aku menikmati waktu ini saja..

tidak lama lagi liburan akan berlangsung dan aku akan menikmati serta menghabiskan waktu liburanku dikampung, bersama dengan keluarga tersayang, tak sabar ingin pulang dan bertemu adik-adikku serta kedua orang tuaku yang hebat..

Kasih Kristus itu sungguh luar biasa dan hebat dalam hidupku
Ia mengajarkanku banyak hal dalam hidup

Kebahagiaan

Sesuai dengan konsepku tentang kebahagiaan adalah saat dimana aku bebas melakukan segala hal terbaik dan yang berguna dalam hidup, dalam arti aku bebas melakukan segala kehendak positifku, itulah kebahagiaan.
Manusia memiliki hasrat untuk bebas dan sebenarnya gemar melakukan kebaikan, itulah saat manusia berbuat salah atau dosa ia akan merasa ketakutan karena hati nuraninya menolak.

bahagia cukup simpel, mengasihi sesama, melakukan banyak kebaikan dan dekat dengan Bapaku Kristus Yesus, itulah kebahagiaan sejati..
Kehendak-Nya yang kulakukan dengan sukacita itulah kebahagiaan, seperti kebebasan pada seekor anak burung yang dilatih orang tuanya untuk terbang demi kebaikannya dan ia menikmati terbangnya, begitulah kehendak Tuhan yang mengajarkan banyak hal untuk kebaikan manusia sendiri, Tuhanlah yang terbaik..





berjalan bersama-Nya adalah kebahagiaan sesungguhnya yang tak banyak manusia sadari.. :)

Minggu, 13 Juli 2014

Album Foto Kuliah 2014

DOwnload file foto Disini

The Open Boat Poster

Synopsis and my opinion about The Open Boat

it just like my own opini in the poster..
You can cek in HERE

Jutsu Itachi dan Itachi ET

Perbedaan Itachi ( saat masih hidup dan dalam anggota akatsuki ) dan Itachi ET dalam Wall Battle ( sesuai rule dalam dushi orde lama ) tentang jutsunya. . .

1. Itachi
-Amaterasu digunakan setelah Gokakyu nj.
-Susano'o digunakan setelah bertahap ( karena ini adalah jutsu pamungkas terakhir ) dengan tahapan : Gokakyu > Amaterasu > Susano'o.

Jumlah chakra Itachi masih terbatas saat dalam hidupnya dikarenakan ia sakit-sakitan, itulah alasan mengapa jutsunya pun dibatasi. . .

2. Itachi ET
bebas, tanpa tahapan, karena Itachi ET memiliki chakra yang tak terbatas dan juga tubuhnya kuat meskipundalam mode mayat hidup. . .

perbedaan kedua char ini adalah pada limit jutsunya saja, tentang perbedaan chakra, Itachi ET juga mampu menggunakan Izanami, sedangkan Itachi andalannya adalah Tsukuyomi atau Dusk Crow Ilussion.

Hari Ini

Banyak hal yang harus dikerjakan namun malas rasanya untuk melakukannya,ini hal penting.

terlalu banyak hal yang harus ku putuskan untuk melakukannya, tentang pilihan juga banyak..

permbelajaran hari ini adalah..
AKu anak dari Raja segala raja, Penguasa di bumi dan disorga ,, kadang terasa berat dalam hidup, tapi ku hidupi terus hidup ini dengan kehendak-Nya, bukan kehendakku, jadilah kehendak-Nya bukan aku ..

tentang pilihanku? yah, semua yang harus kulakukan adalah mendengar suara-Nya dan mengikuti-Nya.

Tuhan Yesus Baik..

Jumat, 11 Juli 2014

Dayak Benuaq ( Copas Wikipedia )



Dayak Benuaq adalah salah satu anak suku Dayak di Kutai Barat (19,9%) Kalimantan Timur[1]
Berdasarkan pendapat beberapa ahli suku ini dipercaya berasal dari Dayak Lawangan sub suku Ot Danum dari Kalimantan Tengah. Lewangan juga merupakan induk dari suku Tunjung di Kalimantan Timur. Benuaq sendiri berasal dari kata Benua dalam arti luas berarti suatu wilayah/daerah teritori tertentu, seperti sebuah negara/negeri. pengertian secara sempit berarti wilayah/daerah tempat tinggal sebuah kelompok/komunitas. Menurut cerita pula asal kata Benuaq merupakan istilah/penyebutan oleh orang Kutai, yang membedakan dengan kelompok Dayak lainnya yang masih hidup nomaden. Orang Benuaq telah meninggalkan budaya nomaden. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di "Benua", lama-kelamaan menjadi Benuaq. Sedangkan kata Dayak menurut aksen Bahasa Benuaq berasal dari kata Dayaq atau Dayeuq yang berarti hulu.
Menurut leluhur orang Benuaq dan berdasarkan kelompok dialek bahasa dalam Bahasa Benuaq, diyakini oleh bahwa Orang Benuaq justru tidak berasal dari Kalimantan Tengah, kecuali dari kelompok Seniang Jatu. Masing-masing mempunyai cerita/sejarah bahwa leluhur keberadaan mereka di bumi langsung di tempat mereka sekarang. Tidak pernah bermigrasi seperti pendapat para ahli.
  1. Salah satu versi cerita leluhur mereka adalah Aji Tulur Jejangkat dan Mook Manar Bulatn. Keduanya mempunyai keturunan Nara Gunaq menjadi orang Benuaq, Sualas Gunaq leluhurnya orang Tonyoy/Tunjung, Puncan Karnaq leluhurnya orang Kutai.
  2. Orang Benuaq di kawasan hilir Mahakam dan Danau Jempang dan sekitarnya hingga Bongan dan Sungai Kedang Pahu mengaku mereka keturunan Seniang Bumuy.
  3. Seniang Jatu dipercaya merupakan leluhur orang Benuaq di kawasan Bentian dan Nyuatan. Dikisahkan bahwa Seniang Jatu diturunkan di Aput Pererawetn, tepi Sungai Barito, sebelah hilir Kota Muara Teweh (Olakng Tiwey). Kedatangan suku (mungkin orang Lewangan, Teboyan, Dusun dan sebagainya) dari Kalimantan Tengah justru berasimilasi dengan Orang Benuaq, dan ini menyebabkan Orang Benuaq mempunyai banyak dialek.
  4. Sedangkan orang Benuaq di kawasan hulu Kedang Pahu mengaku mereka keturunan Ningkah Olo. Menurut legenda Ningkah Olo pertama kali turun ke bumi, menginjakkan kakinya di daerah yang disebut dalam Bahasa Benuaq, Luntuq Ayepm (Bukit Trenggiling). Tempat ini diyakini sebagai sebuah bukit yang merupakan ujung dari Jembatan Mahakam, Samarinda Seberang, Kota Samarinda. Sisa Suku Dayak Benuaq di Kota Samarinda, akhirnya menyingkir ke utara kota, di kawasan Desa Benangaq, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Jadi menurut orang Dayak Benuaq justru merekalah yang pertama menjejakkan kaki di Bumi Samarinda jauh sebelum Kerajaan Kutai resmi berdiri di abad 4 M. Selanjutnya sebagian keturunannya berangsung-angsur menuju muara Sungai Mahakam bermukim di Jahitan Layar dan Tepian Batu dan sekitarnya. Sebagian yang menuju muara Mahakam, selanjutnya berlayar/berjalan ke arah selatan (Balikpapan, Paser dan Penajam). Hal ini mungkin bisa menjelaskan hubungan kekerabatan Dayak Benuaq dan Paser. Orang Benuaq di Kecamatan Bongan, Kutai Barat, berbahasa Benuaq berdialeq Paser Bawo. Sebagian lagi menuju pedalaman Sungai Mahakam. Sebagian keturunan yang masih 'tertinggal' di Tenggarong, bermukim di Kecamatan Tenggarong dan Tenggarong Seberang.
Tokoh Dayak Benuaq
  1. Korrie Layun Rampan, Sastrawan.
  2. Yurnalis Ngayoh, Wakil Gubernur Kalimantan Timur 1998-2003, 2003-2006, Gubernur Kalimantan Timur 2006-2008
Penyebaran Geografis Suku Dayak Benuaq
Suku Dayak Benuaq dapat ditemui di sekitar wilayah Sungai Kedang Pahu di pedalaman Kalimantan Timur dan di daerah danau Jempang. Di Kalimantan Timur, sebagian besar mendiami Kutai Barat dan merupakan etnis mayoritas (+/- 60 %). Mendiami di Kecamatan Bongan, Jempang, Siluq Ngurai, Muara Pahu, Muara Lawa, Damai, Nyuwatan, sebagian Bentian Besar, Mook Manar Bulatn serta Barong Tongkok, di Kabupaten Kutai Kartanegara mendiami daerah Jonggon hingga Pondok Labu, Kecamatan Tenggarong, kawasan Jongkang hingga Perjiwa, Kecamatan Tenggarong Seberang. Bahkan Bupati Pertama Kutai Barat adalah putra Dayak Benuaq, termasuk Doktor (DR) pertama Dayak Indonesia dalam studi non-teologi juga dari putra Dayak Benuaq dari Kutai Barat.
Karena kedekatan kekerabatan Orang Benuaq dengan Orang Lawangan dan warga di sepanjang Sungai Barito umumnya, maka terdengar selentingan pada Orang Benuaq, mereka merasa layak jika Kabupaten Kutai Barat bergabung dengan wacana Provinsi Barito Raya.
Kedekatan orang Benuaq dengan orang Paser dapat disimak dari cerita rakyat Orang Paser "Putri Petung" dan "Mook Manor Bulatn" cerita rakyat orang Tonyoy-Benuaq, kedua-duanya terlahir di dalam "Betukng" atau "Petung" salah satu spesies/jenis bambu. Selanjutnya dialek orang Benuaq yang berdiam di Kecamatan Bongan sama dengan bahasa orang Paser.
Kekerabatan Orang Benuaq dengan Orang Suku Kutai
Mengenai nama Kutai, ada pendapat bahwa itu memang bukan menunjuk nama etnis seperti yang menjadi identitas sekarang. Sebaliknya ada yang berpendapat nama Kutai selain menunjuk pada teritori. Sumpah Palapa Patih Gajah Mada di Majapahit sempat menyebutkan Tunjung Kuta, ada pula yang mengatakan tulisan yang benar adalah Tunjung Kutai. Dulu dalam buku sejarah Kutai ditulis Kutei, padahal istilah Kutei justru merupakan istilah dalam Bahasa Tunjung Benuaq, entah kapan istilah tersebut berubah menjadi Kutai. Istilah Kutai erat pula dengan istilah Kutaq – Tunjung Kutaq dalam bahasa Benuaq. Di pedalaman Mahakam terdapat nama pemukiman (kota kecamatan) bernama Kota Bangun – sekarang didiami etnis Kutai. Menurut catatan Penjajah Belanda dulu daerah ini diami orang-orang yang memelihara babi, dan mempunyai rumah bertiang tinggi. Menurut Orang Tunjung Benuaq, istilah Kota Bangun yang benar adalah Kutaq Bangun. Demikian pula di sekitar Situs Sendawar ada daerah yang namanya Raraq Kutaq (di Kec. Barong Tongkok, Kota Sendawar ibukota Kutai Barat). Kutaq dalam bahasa Tunjung atau Benuaq berarti Tuan Rumah, jadi orang Tunjung Benuaq lebih dahulu/awal menyebut istilah ini dibandingkan versi lain yang menyebut Kutai berasal dari Bahasa Cina – Kho dan Thai artinya tanah yang luas/besar.
Nama Tenggarong (ibukota Kutai Kartanegara) menurut bahasa Dayak Orang Benuaq adalah Tengkarukng berasal dari kata tengkaq dan karukng, tengkaq berarti naik atau menjejakkan kaki ke tempat yang lebih tinggi (seperti meniti anak tangga), bengkarukng adalah sejenis tanaman akar-akaran. Menurut Orang Benuaq ketika sekolompok orang Benuaq (mungkin keturunan Ningkah Olo) menyusuri Sungai Mahakam menuju pedalaman mereka singgah di suatu tempat dipinggir tepian Mahakam, dengan menaiki tebing sungai Mahakam melalui akar bengkarukng, itulah sebabnya disebut Tengkarukng, lama-kelamaan penyebutan tersebut berubah menjadi Tenggarong sesuai aksen Melayu.
Perhatikan pula nama-nama bangsawan Kutai Martadipura dan Kutai Kartenagara, menggunakan gelar Aji(Indonesia)[1] – bandingkan dengan nama Aji Tullur Jejangkat pendiri Kerajaan Sendawar (Dayak) – ayah dari Puncan Karna leluhur orang Kutai. Sisa kebudayaan Hindu yang sama-sama masih tersisa sebagai benang merah adalah Belian Kenjong, Belian Dewa serta Belian Melas/Pelas. Ketiga belian tersebut syair/manteranya menggunakan bahasa Kutai.
Sistem Kepercayaan
Animisme dan Dinamisme merupakan kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia secara umum. Bagi orang Dayak khususnya kepercayaan Dayak Benuaq lebih dari Animisme dan Dinamisme, tetapi meyakini bahwa alam semesta dan semua makhluk hidup mempunyai roh dan perasaan sama seperti manusia, kecuali soal akal.
Oleh sebab itu bagi Suku Dayak Benuaq segenap alam semesta termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan harus diperlakukan sebaik-baiknya dengan penuh kasih sayang. Mereka percaya perbuatan semena-mena dan tidak terpuji akan dapat menimbulkan malapetaka. Itu sebabnya selain sikap hormat, mereka berusaha mengelola alam semesta dengan se-arif dan se-bijaksana mungkin.
Meskipun sepintas kepercayaan orang Dayak Benuaq seperti polytheisme, tetapi mereka percaya bahwa alam semesta ini diciptakan dan dikendalikan oleh penguasa tunggal yaitu Letalla. Letalla mendelegasikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan bidang-bidang tertentu, kepada para Seniang, Nayuq, Mulakng dll. Seniang memberikan pembimbingan, sedangkan Nayuq akan mengeksekusi akibat pelanggaran terhadap adat dan norma.
Fungsi Patung (Belontakng) dalam Kepercayaan Dayak Benuaq
Terjadi kesalahan anggapan termasuk para ahli, bahwa Suku Dayak membuat patung untuk mereka sembah sebagai symbol sesembahan masyarakat Dayak Benuaq. Oleh karena kesalahan persepsi ini, seringkali masyarakat Dayak Benuaq dianggap suku penyembah berhala.
Banyak jenis patung yang dibuat Suku Dayak Benuaq bukan untuk disembah atau dipuja, tetapi justru harus diludahi setiap orang yang melewatinya. Ada juga patung yang dibuat untuk mengelabui roh jahat atau makhluk halus agar tidak menggangu manusia. Jadi patung lebih daripada wujud/tanda peringatan baik untuk berbuat baik atau larangan terhadap perbuatan jahat.
Sistem Sosial dan Adat Istiadat
Masyarakat Suku Dayak Benuaq menganut system matrilineal.
Dalam rangka pengelolaan alam semesta termasuk hubungan antar mahluk hidup dan kematiannya serta hubungan dengan kosmos, haruslah sesuai dengan adat istiadat dan tata karma yang telah diwariskan oleh nenek moyang orang Benuaq. Adat istiadat dan tata karma diwariskan sama tuanya dengan keberadaan Suku Dayak Benuaq di Bumi. Orang Suku Dayak Benuaq percaya bahwa Sistem Adat yang ada bukanlah hasil budaya, tetapi mereka mendapatkan dari petunjuk langsung dari Letalla melalui para Seniang maupun melalui mimpi.
Orang Dayak Benuaq, percaya bahwa system adatnya telah ada sebelum negara ini lahir. Itu sebabnya mereka tidak menerima begitu saja, pendapat yang mengatakan bahwa dengan lahir Negara dan aturan dapat menghilangkan aturan Adat Istiadat Suku Dayak Benuaq.
Paling tidak ada 5 pilar/tiang adat Suku Dayak Benuaq :
  1. Adet
  2. Purus
  3. Timekng
  4. Suket
  5. Terasi
Kelimanya harus dijalankan / menjadi pegangan dalam melaksanakan adat istiadat di Bumi, jika tidak akan terjadi ketidak adilan dan kekacauan di masyarakat. Selain itu penyimpangan baik sengaja maupun tidak sengaja oleh pemangku adat akan mendapat kutukan dari Nayuk Seniang. Perwujudan dari kutukan ini bias berbentuk kematian baik mendadak maupun perlahan-lahan, juga bias berbentuk kehidupan selalu mendapat bencana/malapetaka serta susah mendapatkan rejeki.
Lou (dibaca: lo-uu ; Lamin)
Sebagaimana masyarakat Dayak umummya, Dayak Benuaq juga mempunyai tradisi rumah panjang. Dalam masyarakat Dayak Benuaq, tidak semua rumah panjang dapat disebut Lou (Lamin).
Rumah panjang dapat disebut lou (lamin) jika mempunyai minimal 8 olakng. Olakng merupakan bagian/unit lou. Dalam satu olakng terdapat beberapa bilik dan dapur. Jadi olakng bukan bilik/kamar sebagaimana rumah besar, tetapi olakng merupakan sambungan bagian dari lou.
Banyaknya olakng dalam rumah panjang bagi Suku Dayak Benuaq dapat menunjukkan level/bentuk kepemimpinannya. Itu sebabnya rumah panjang yang besar (lou) sering disebut kampong besar atau benua. Berdasarkan pengertian ini lou seringkali berkonotasi dengan kampong atau benua.
Berdasarkan ukuran dan system kepemimpinan rumah panjang, masyarakat adapt Dayak Benuaq membedakan rumah panjang sekaligus model pemukiman masyarakat sebagai:
  1. Lou (lamin)
  2. Puncutn Lou / Puncutn Benua
  3. Puncutn Kutaq
  4. Tompokng
  5. Umaq (Huma / Ladang).
Tanaa Adeut (Tanah Ulayat - Tanah Adat)
Hutan dan segala isinya bagi Suku Dayak Benuaq merupakan benda/barang adat. Itu sebabnya pengelolaannya harus berdasarkan system adat istiadat. Pada zaman Orde Baru Suku Dayak Benuaq mengalami zaman yang paling buruk. Hutan sebagai ibu pertiwi mereka disingkirkan dari orang Benuaq dengan berdalih pada Undang-Undang terutama pada Undang-Undang Agraria. Sehingga rejim Orba dengan mudah memisahkan Suku Dayak Benuaq dengan sumber satu-satu penghidupan mereka saat itu, ditambah lagi dengan disebarnya aparat keamanan dan pertahanan untuk menjadi tameng perusahaan-perusahaan HPH. Namun menjadi keanehan bahwa Orang Dayak (Benuaq)lah yang menyebabkan degradasi hutan besar-besaran sebagai dampak system perladangan bergulir, yang disebut-sebut sebagai perladangan berpindah.
Berdasarkan ciri/status hutan dapat dibedakan atas :
  • Urat Batekng
  • Simpukng Munan (Lembo)
  • Kebon Dukuh
  • Ewei Tuweletn
  • Lati Rempuuq
  • Lati Lajah
Berdasarkan suksesi hutan dapat dibedakan atas:
  • Bengkar Bengkalutn – Bengkaar Tuhaaq (Hutan Primer)
  • Bengkaar Uraaq (Hutan Sekunder Tua; 15-35 tahun)
  • Urat Batekng / Batekng (Hutan Sekunder Muda ; 10-15 tahun)
  • Balikng Batakng (7-10 tahun)
  • Kelewako (2-3 tahun)
  • Baber (1-2 tahun)
  • Umaaq (huma/ladang) 0 – 1 tahun
Prosesi Adat Kematian
Prosesi adat kematian Dayak Benuaq dilaksanakan secara berjenjang. Jenjang ini menunjukkan makin membaiknya kehidupan roh orang yang meninggal di alam baka. Orang Dayak Benuaq percaya bahwa alam baqa memiliki tingkat kehidupan yang berbeda sesuai dengan tingkat upacara yang dilaksanakan orang yang masih hidup (keluarga dan kerabat).
Alam baka dalam bahasa Benuaq disebut secara umum adalah Lumut. Di dalam Lumut terdapat tingkat (kualitas) kehidupan alam baqa. Kepercayaan Orang Dayak Benuaq tidak mengenal Nereka. Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan Orang Dayak Benuaq telah mendapat ganjaran selama mereka hidup, baik berupa tulah, kutukan, bencana/malapetaka, penderitaan dll. Itu sebabnya Orang Dayak Benuaq meyakini jika terjadi yang tidak baik dalam kehidupan berarti telah terjadi pelanggaran adat dan perbuatan yang tidak baik. Untuk menghindari kehidupan yang penuh bencana, maka orang Dayak Benuaq berusaha menjalankan adat dengan sempurna dan menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Secara garis besar terdapat 3 tingkatan acara Adat kematian :
  1. Parepm Api
  2. Kenyauw
  3. Kwangkai Kewotoq (Kwangkey)
Bahasa Benuaq
Bahasa Benuaq termasuk dalam Bahasa Lawangan dengan kode bahasa lbx.[rujukan?]

Dayak Benuaq
Dayak Paser
Indonesia
aro/aruh
aroh
itu
awat
awat
bantu/membantu
eso
aso
lagi
balo
balo
rambut
bayuq
bayu
baru
bawe
bawe
cewek/perempuan
belay
belay
rumah
bejagur
bejagur
berkelahi
boliq
boli
beli
boyas
bias
beras
bolupm
bolum
hidup
boruk
boruk
kera/beruk
botikng
boting
kenyang
oyat
boyat
berat
butukng
buntung
perut
bura
bura
putih
danum
danum
air
dawetn
daon
daun
dotuq
dotu
siang
lola
dola
lidah
Budaya Benuaq
Kain Ulap Doyo
Selain Keseniannya, Suku Dayak Benuaq, terkenal dengan kain khasnya yang disebut Ulap Doyo. Ini merupakan satu-satunya kelompok Dayak yang memiliki seni kerajinan kain. Dewasa ini kerajinan Ulap Doyo hanya dijumpai di Kecamatan Jempang.
  • Lagu:
  1. Bedone
  • Seni Suara:
  1. Bedeguuq
  2. Berijooq
  3. Ninga
  • Seni Berpantun:
  1. Perentangin
  2. Ngelengot
  3. Ngakey
  4. Ngeloak
  • Seni Tari:
  1. Tari Gantar
  2. Tari Ngeleway
  3. Tari Ngerangkaw
  1. Beliatn Bawo
  2. Beliatn Bawe
  3. Beliatn Sentiyu
  4. Beliatn Kenyong
  5. Beliatn Luangan
  6. Beliatn Bejamu
  • Tolak Bala / Hajatan / Selamatan:
  1. Nuak
  2. Bekelew
  3. Nalitn Tautn
  4. Paper Maper
  5. Besamat
  6. Pakatn Nyahuq
  • Perkawinan:
  1. Ngompokng
  • Upacara Adat Kematian:
  1. Kwangkey/Kuangkay
  2. Kenyeuw
  3. Parepm Api/Tooq
Lagu Daerah Dayak Benuaq
Organisasi Benuaq
Catatan kaki
Pranala luar